Photobucket
Photobucket

Selasa, 28 Februari 2012

PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Mengapa pendidikan karakter penting untuk diberikan dalam proses pendidikan? Hal itu karena berdasarkan hasil penelitian Heckman, James & Pedro Carneiro, 2003 yang disitir oleh Ratna Megawangi, 2010 menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual seseorang (verbal dan logis-matematis) hanya memberikan kontribusi 20% saja dari keberhasilan seseorang di masyarakat, sedangkan 80% lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosi seseorang tersebut.
Kecerdasan emosi merujuk pada karakter atau dalam bahasa agamanya akhlak mulia. Penelitian tersebut sesuai dengan hasil penelitian George Boggs, yang juga disitir Ratna Megawangi (2010) yang menunjukkan bahwa dari 13 faktor penunjang keberhasilan seseorang di dunia kerja, 10 di antaranya (hampir 80%) adalah kualitas karakter seseorang, dan sisanya (tiga) berkaitan dengan faktor kecerdasan intelektual. Ke-13 faktor tersebut adalah: (1) jujur dan dapat diandalkan; (2) bisa dipercaya dan tepat waktu; (3) bisa menyesuaikan diri dengan orang lain; (4) bisa bekerjasama dengan atasan; (5) bisa menerima dan menjalankan kewajiban; (6) mempunyai motivasi kuat untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri; (7) berpikir bahwa dirinya berharga; (8) bisa berkomunikasi dan mendengarkan secara efektif; (9) bisa bekerja mandiri dengan supervisi minimum; (10) dapat menyelesaikan masalah pribadi dan profesinya; (11) mempunyai kemampuan dasar (kecerdasan); (12) bisa membaca dengan pemahaman memadai; dan (13) mengerti dasar-dasar matematika (berhitung).
Ada banyak nilai-nilai karakter yang mungkin perlu diberikan dalam proses pelaksanaan pendidikan terutama di sekolah guna membentuk generasi bangsa kita yang berkualitas, bermartabat, dan berkarakter. Adapun nilai-nilai dasar karakter yang perlu dikembangkan tersebut, diantaranya yaitu: bertakwa (religius), tanggung jawab (responsible), disiplin (dicipline), jujur (honest), sopan (polite), peduli (care), kerja keras (hard work), sikap yang baik (good attitude), toleransi (tolerate), kreatif (creative), mandiri (independent), rasa ingin tahu (curiosity), semangat kebangsaan (nationality spirit), menghargai (respect), bersahabat (friendly), dan cinta damai (peace full).

B.       Dasar Hukum
Dasar hukum dilaksanakannya pendidikan karakter adalah sebagai berikut.
1.       Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen.
2.       Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3.       Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
4.       Permendiknas No 39 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kesiswaan.
5.       Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.
6.       Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan.
7.       Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional 2010-2014.
8.       Renstra Kemendiknas Tahun 2010-2014.
9.       Renstra Direktorat Pembinaan SMK Tahun 2010 – 2014.

C.       Tujuan Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat dan membangun perilaku bangsa yangmultikultur; (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga,satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
Pendidikan  karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.
Lickona (1992) menjelaskan beberapa alasan perlunya Pendidikan karakter, di antaranya: (1) Banyaknya generasi muda saling melukai karena lemahnya kesadaran pada nilai-nilai moral, (2) Memberikan nilai-nilai moral pada generasi muda merupakan salah satu fungsi peradaban yang paling utama, (3) Peran sekolah sebagai pendidik karakter menjadi semakin penting ketika banyak anak-anak memperoleh sedikit pengajaran moral dari orangtua, masyarakat, atau lembaga keagamaan, (4) masih adanya nilai-nilai moral yang secara universal masih diterima seperti perhatian, kepercayaan, rasa hormat, dan tanggungjawab, (5) Demokrasi memiliki kebutuhan khusus untuk pendidikan moral karena demokrasi merupakan peraturan dari, untuk dan oleh masyarakat, (6) Tidak ada sesuatu sebagai pendidikan bebas nilai. Sekolah mengajarkan pendidikan bebas nilai. Sekolah mengajarkan nilai-nilai setiap hari melalui desain ataupun tanpa desain, (7) Komitmen pada pendidikan karakter penting manakala kita mau dan terus menjadi guru yang baik, dan (8) Pendidikan karakter yang efektif membuat sekolah lebih beradab, peduli pada masyarakat, dan mengacu pada performansi akademik yang meningkat.
Alasan-alasan di atas menunjukkan bahwa pendidikan karakter sangat perlu ditanamkan sedini mungkin untuk mengantisipasi persoalan di masa depan yang semakin kompleks seperti semakin rendahnya perhatian dan kepedulian anak terhadap lingkungan sekitar, tidak memiliki tanggungjawab, rendahnya kepercayaan diri, dan lain-lain. Untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter, Lickona dalam Elkind dan Sweet (2004) menggagas pandangan bahwa pendidikan karakter adalah upaya terencana untuk membantu orang untuk memahami, peduli, dan bertindak atas nilai-nilai etika/ moral. Pendidikan karakter ini mengajarkan kebiasaan berpikir dan berbuat yang membantu orang hidup dan bekerja bersama-sama sebagai keluarga, teman, tetangga, masyarakat, dan bangsa.
Pandangan ini mengilustrasikan bahwa proses pendidikan yang ada di pendidikan formal, non formal dan informal harus mengajarkan peserta didik atau anak untuk saling peduli dan membantu dengan penuh keakraban tanpa diskriminasi karena didasarkan dengan nilai-nilai moral dan persahabatan. Di sini nampak bahwa peran pendidik dan tokoh panutan sangat membantu membentuk karakter peserta didik atau anak.

D.      Pendidikan Karakter
Karakter adalah nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika. Karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta membedakannya dengan individu lain (Mustadi, 2011). Dan seseorang dapat dikatakan berkarakter, jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyaraket, serta digunakan sebagai moral dalam hidupnya.
Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku (karakter) kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Ada beberapa penamaan nomenklatur untuk merujuk kepada kajian pembentukan karakter peserta didik, tergantung kepada aspek penekanannya. Di antaranya yang umum dikenal ialah: Pendidikan Moral, Pendidikan Nilai, Pendidikan Relijius, Pendidikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Karakter itu sendiri. Masing-masing penamaan kadang-kadang digunakan secara saling bertukaran (inter-exchanging), misal pendidikan karakter juga merupakan pendidikan nilai atau pendidikan relijius itu sendiri (Kirschenbaum, 2000). Sebagai kajian akademik, pendidikan karakter tentu saja perlu memuat syarat-syarat keilmiahan akademik seperti dalam konten (isi), pendekatan dan metode kajian. Di sejumlah negara maju, seperti Amerika Serikat terdapat pusat-pusat kajian pendidikan karakter (Character Education Partnership; International Center for Character Education). Pusat-pusat ini telah mengembangkan model, konten, pendekatan dan instrumen evaluasi pendidikan karakter. Tokoh-tokoh yang sering dikenal dalam pengembangan pendidikan karakter antara lain Howard Kirschenbaum, Thomas Lickona, dan Berkowitz.  Pendidikan karakter berkembang dengan pendekatan kajian multidisipliner: psikologi, filsafat moral/etika, hukum, sastra/humaniora.
Terminologi ”karakter” itu sendiri sedikitnya memuat dua hal: values (nilai-nilai) dan kepribadian. Suatu karakter merupakan cerminan dari nilai apa yang melekat dalam sebuah entitas. ”Karakter yang baik” pada gilirannya adalah suatu penampakan dari nilai yang baik pula yang dimiliki oleh orang atau sesuatu, di luar persoalan apakah ”baik” sebagai sesuatu yang ”asli” ataukah sekadar kamuflase. Dari hal ini, maka kajian pendidikan karakter akan bersentuhan dengan wilayah filsafat moral atau etika yang bersifat universal, seperti kejujuran. Pendidikan karakter sebagai pendidikan nilai menjadikanupaya eksplisit mengajarkan nilai-nilai, untuk membantu  siswa mengembangkan disposisi-disposisi guna bertindak  dengan cara-cara yang pasti” (Curriculum Corporation, 2003). Persoalan baik dan buruk, kebajikan-kebajikan, dan keutamaan-keutamaan menjadi aspek penting dalam pendidikan karakter semacam ini.
Sebagai aspek kepribadian, karakter merupakan cerminan dari kepribadian secara utuh dari seseorang: mentalitas, sikap dan perilaku. Pendidikan karakter semacam ini lebih tepat sebagai pendidikan budi pekerti. Pembelajaran tentang tata-krama, sopan santun, dan adat-istiadat, menjadikan pendidikan karakter semacam ini lebih menekankan kepada perilaku-perilaku aktual tentang bagaimana seseorang dapat disebut berkepribadian baik atau tidak baik berdasarkan norma-norma yang bersifat kontekstual dan kultural.  
Bagaimana pendidikan karakter yang ideal? Dari penjelasan sederhana di atas, pendidikan karakter hendaknya mencakup aspek pembentukan kepribadian yang memuat dimensi nilai-nilai kebajikan universal dan kesadaran kultural di mana norma-norma kehidupan itu tumbuh dan berkembang. Ringkasnya, pendidikan karakter mampu membuat kesadaran transendental individu mampu terejawantah dalam perilaku yang konstruktif berdasarkan konteks kehidupan di mana ia berada.
Penerapan pendidikan karakter di sekolah setidaknya dapat ditempuh melalui empat alternatif strategi secara terpadu (Mustadi, 2011). Strategi pertama ialah dengan mngintegrasikan konten pendidikan karakter yang telah dirumuskan kedalam seluruh mata pelajaran. Strategi kedua ialah dengan mengitegrasikan pendidikan karakter kedalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Strategi ketIga ialah dengan mengitegrasikan pendidikan karakter ke dalam kegiatan yang diprogramkan atau direncanakan. Dan Strategi keempat ialah dengan membangun komunikasi dan kerjasama antara sekolah dengan orang tua peserta didik
BAB II
KEGIATAN PENDIDIKAN KARAKTER

A.      Pembinaan Karakter melalui Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dalam kerangka pengembangan karakter peserta didik dapat menggunakan pendekatan kontekstual sebagai konsep belajar dan mengajar yang membantu guru dan peserta didik mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata, sehingga peserta didik mampu untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Dengan begitu, melalui pembelajaran kontekstual peserta didik lebih memiliki hasil yang komprehensif tidak hanya pada tataran kognitif (olah pikir), tetapi pada tataran afektif (olah hati, rasa, dan karsa), serta psikomotor (olah raga).
Pembelajaran kontekstual mencakup beberapa strategi, yaitu: (a) pembelajaran berbasis masalah, (b) pembelajaran kooperatif, (c) pembelajaran berbasis proyek, (d) pembelajaran pelayanan, dan (e) pembelajaran berbasis kerja. Kelima strategi tersebut dapat memberikan nurturant effect pengembangan karakter peserta didik, seperti: karakter cerdas, berpikir terbuka, tanggung jawab, rasa ingin tahu.
Langkah awal yang dilakukan dalam pembinaan karakter dalam pembelajaran adalah memilih dan memahami karakter apa yang diharapkan dapat menunjang suatu pelajaran tertentu. Selanjutnya mengintegrasikan beberapa karakter yang didapatkan ke dalam penyusunan silabus, silabus dijabarkan dalam RPP dan pelaksanaannya menggunakan bahan ajar yang sudah memasukkan karakter tertentu. Dalam pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru mengacu kepada kontekstual teaching and learning. Dan diakhiri dengan evaluasi atau penilaian dengan cara Autentic assesment.
Pembangunan karakter kebangsaan adalah modal utama untuk menjadi bangsa yang besa tutur Djoko Soemadijo. Selanjutnya beliau menjelaskan tentang pentingnya keseimbangan antara Intellectual Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ). Keseimbangan ketiga kecerdasan inilah yang mampu menjadikan manusia memiliki karakter dan jati diri. Proses untuk mendapatkan keseimbangan dari ketiga kecerdasan tersebut adalah dengan menerapkan 3N yakni Niteni (memperhatikan dan mengingat), Niru (menirukan), dan Nambahi (menambah) sehingga diharapkan dari proses pembelajaran (Niteni dan Niru) akan muncul inovasi baru atau tesis dari proses sintesis.
Selain itu, Djoko Soemadijo juga mengingatkan perlunya pelestarian kearifan lokal dalam menjalani kehidupan sehari-hari untuk menghadapi era globalisasi. Lebih lanjut beliau mengatakan Hanya bangsa dengan karakter yang kuat yang mampu bertahan dari penjajahan dalam bentuk baru atau neo-kolonialisme
Penerapan pendidikan karakter di sekolah harus melibatkan semua komponen (stakeholders), termasuk komponen pendidikan itu sendiri,yaitu isi kurikulum,proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Di beberapa sekolah,pendidikan karakter sudah menjadi bagian dari keseharian dan berjalan dengan tertib. Seperti di Sekolah Alam Ciganjur,sekolah ini membagi dua target utamanya,yakni budi pekerti luhur dan jiwa kepemimpinan (leadership) yang merupakan bagian dari pembentukan karakter siswanya. Kedua kegiatan ini bukan berada dalam mata pelajaran tertentu, melainkan terintegrasi pada seluruh pelajaran dan ritual, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar kelas.
Menurut Novi Hardian, salah seorang guru di Sekolah Alam Ciganjur, penerapan pendidikan karakter ini akan lebih efektif jika dilakukan dalam kegiatan praktik melalui structure experimental learning.“ Siswa menceritakan apa saja yang sudah didapatnya seharian di sekolah.Kemudian dari situ bersama guru menarik kesimpulan yang didapat dan hikmah di baliknya. Jadi, ada refleksi dari kegiatan yang dilakukan dan siswa pun mendapatkan pelajaran berharga,” kata Novi. Sekolah alam dari tingkat prasekolah hingga sekolah menengah pertama (SMP) ini mendidik siswa agar berkarakter sejak kedatangan hingga kembali ke rumah.
Diawali dengan berdoa pada pagi hari, termasuk melatih disiplin dan sikap antre ketika melakukan kegiatan. Jiwa kepemimpinan dan kerja sama dilatih melalui kegiatan outbound. “Kegiatan ini yang paling memberikan efek besar pada pembentukan karakter.Termasuk kegiatan outdoor berkunjung ke suatu tempat, misalnya ke pasar ikan. Dalam perjalanan tersebut, ada target yang harus dipenuhi siswa,” tutur Novi. Lain lagi dengan Madani Islamic School.
Sekolah di bilangan Tebet Dalam ini menerapkan pendidikan karakter lewat program pembiasaan. Misalnya saja tema bulan ini adalah senyum, salam, sapa.Kegiatan tersebut harus diikuti oleh siswa maupun guru.“Siswa dibiasakan untuk bertegur sapa, baik dengan teman maupun guru. Pada saat mereka belajar Alquran, tak lupa guru mengajak untuk memahami terjemahannya dan mengaitkannya dengan kegiatan keseharian siswa,”kata staf Research & Development Madani Islamic School Marsono. Di samping itu, secara berkala sekolah ini juga bekerja sama dengan lembaga ESQ.
Penanaman kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama, merupakan beberapa nilai yang dapat diambil dari kegiatan tersebut. Sementara itu, SMA Gonzaga mempunyai cara tersendiri dalam menerapkan pendidikan karakter ini. Untuk kelas 10, siswa diajak mengikuti kegiatan jambore. Melalui kegiatan ini, mereka dapat beradaptasi dan lebih mengenal lingkungan.
Berlanjut ke kelas 11, siswa diharuskan menginap di pedesaan yang berada di Jawa Tengah dan mengasah kepedulian terhadap sesama. “Mereka bisa melihat seperti apa kehidupan di desa dan membantu semampunya.
Misalnya bekerja di sawah atau menjadi tutor bagi anak-anak di sana,” kata Alis Windu Prasetya, moderator SMA Gonzaga. Di kelas 12, siswa mengikuti geladi rohani yang bertujuan merancang masa depan siswa dan memberikan berbagai pengetahuan sebagai bekal pijakan selepas lulus SMA

B.       Pembinaan Karakter melalui Ekstrakurikuler
Selain pelaksanaan pendidikan karakter dalam pembelajaran di kelas diperlukan kegiatan penunjang diluar kelas yang mendukung terlaksananya pendidikan karakter tersebut. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan pesertaa didik di luar kelas.
Kegiatan yang dilakukan di SMKN 4 Malang dalam rangka kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan OSIS yang meliputi pembiasaan akhlak mulia, tatakrama dan tata tertib kehidupan bersekolah, pendidikan bela negara, dan pendidikan berwawasan kebangsaan. Kegiatan OSIS tersebut didukung oleh kegiatan ekstrakurikuler Paskibra, PMR, dan Pramuka. Didukung kegiatan ekstrakurikuler dalam bidang olah raga yaitu: Futsal, Bola voli, Badminton, Tenis dan Renang. Serta dalam bidang seni yaitu: Teater, Tvedu, Karawitan, Musik, dan Tari.
BAB III
PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SMKN 4 MALANG

Penerapan pendidikan karakter pada proses pembelajaran mengacu pada sembilan pilar karakter. Pilar-pilar tersebut antara lain:
1.       Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya (love Allah, trust, reverence, loyalty),yaitu bentuk karakter yang membuat setiap siswa wajib bertakwa kepadaTuhan, beriman, mampu menjalankan segala perintahNya, dan berusaha untuk meninggalkan segala laranganNya
2.       Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness). yaitu bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin, dan selalu melakukan sesuatu dengansebaik mungkin. Dalam pembelajaran busana, siswa dituntut untuk bertanggung jawab atas semua pekerjaan yang telah dikerjakan (berani mengambil resiko apabila salah), disiplin waktu mengerjakan pekerjaan dan dikerjakan secara mandiri dan baik
3.       Kejujuran/amanah dan arif (trustworthines, honesty, and tactful), yaitu karakter yang membuat siswa bertindak jujur. Oleh karena itu dalam melakukan suatu pekerjaan membuat busana, siswa dituntut untuk terbuka atau apa adanya dalam setiap tindakan, tidak berbohong dan berlaku arif
4.       Hormat dan santun (respect, courtesy, obedience ), yaitu bentuk karakter yang membuat siswa dan guru selalu menghargai dan menghormati. Siswa dituntut untuk santun terhadap guru, teman, serta warga sekolah .
5.       Dermawan, suka menolong dan gotong-royong/kerjasama (love, compassion,caring, empathy, generousity, moderation, cooperation), yaitu bentuk karakter yang membuat warga belajar, yaitu siswa dan guru memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap siswanya maupun kondisi sosial lingkungan sekitar.
6.       Percaya diri, Kreatif dan Pekerja keras (confidence, assertiveness, creativity,resourcefulness, courage, determination, enthusiasm), yaitu bentuk karakter yang membuat siswa mempunyai sikap percaya diri, tegas dalam menentukan sesuatu, kreatif, mempunyai akal sehat, berani menghadapi tantangan, mempunyai tekad tingg, dan selalu bersemangat
7.       Kepemimpinan dan Keadilan (justice, fairness, mercy, leadership), Yaitu bentuk karakter yang membuat siswa mempunyai jiwa adil, mempunyai rasa belas kasihan, dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik
8.       Baik dan Rendah Hati (kindness, friendliness, humility, modesty), yaitu bentuk karakter yang membuat warga belajar mempunyai sifat baik, ramah, rendahhati, kesederhanaan
9.       Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan (tolerance, flexibility, peacefulness, unity),yaitu bentuk karakter yang membantu siswa mempunyai rasa toleransi dengan teman, fleksibilitas, kedamaian, persatuan
Dorothy Law Nolte dalam Muhtadi (2011) menyatakan bahwa anak belajar dari kebiasaan hidupnya.
·       Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
·       Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
·       Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
·       Jika ia dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
·       Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
·       Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
·       Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
·       Jika anak dibesarkan dengan dorongan , ia belajar percaya diri
·       Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
·       Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
·       Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
·       Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
·       Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
·       Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
·       Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
·       Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
·       Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
·       Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dalam pikiran
Identifikasi butir-butir karakter Adil, amanah, pengampunan, antisipatif, arif, baik sangka, kebajikan, keberanian. Bijaksana, cekatan, cerdas, cerdik, cermat, pendaya guna, demokratis, dermawan, dinamis, disiplin, efisien, empan papan, empati, fair play, gigih, gotong royong, hemat, hormat, kehormatan, ikhlas, inisiatif, inovatif, kejujuran, pengendalian diri, rajin, ramah, sabar, santun, produktif, mandiri, dll.
                        Untuk mengefektifkan dan menerapkan pendidikan karakter secara utuh mesti menyertakan tiga basis desain dalam pemrogramannya. 1. Desain pendidikan karakter berbasis kelas. 2. Desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. 3. Desain pendidikan karakter berbasis komunitas. Sementara itu dengan semakin meningkatnya urgensi pendidikan karakter maka guru perlu memahami tentang cara menggabungkan pendidikan karakter dalam program bimbingan dan konseling. Jenis materi yang disarankan antara lain: tanggung jawab (responsibility), ketekunan (perseverance), kepedulian (caring), disiplin (self discipline), kewarganegaraan (citizenship), kejujuran (honesty), keberanian (courage), keadilan (fairness), rasa hormat (respect) dan integritas (integrity).
Pelaksanaan pendidikan karakter di SMKN 4 Malang dapat dibuat dalam bentuk Tabel sebagai berikut.

NILAI
DESKRIPSI
APLIKASI
1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

a)   Pembacaan Asmaul Husna dilanjutkan dengan berdo’a setiap memulai pelajaran
b)   Pembacaan Al-Quran setiap hari Jum’at sebelum pelajaran dimulai
c)   Pelaksanaan Sholat Jum’at
d)   Peringatan hari-hari besar Agama
e)   Berdoa sebelum dan sesudah pelajaran












2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
a)   Adanya kantin kejujuran
b)   Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang. 
c)   Tempat pengumuman barang temuan atau hilang.
d)   Tranparansi laporan keuangan dan penilaian kelas secara berkala.
e)   Larangan menyontek.

3. Toleransi
Sikap dan  tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
a)   Menghargai dan memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh warga sekolah tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, status ekonomi, dan kemampuan khas.
b)   Memberikan perlakuan yang sama terhadap stakeholder tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan  status ekonomi.







4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
a)   Memiliki catatan kehadiran.
b)   Memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang disiplin.
c)   Memiliki tata tertib sekolah.
d)   Membiasakan warga sekolah untuk berdisiplin.
e)   Menegakkan aturan dengan memberikan sanksi secara adil bagi pelanggar tata tertib sekolah.
5. Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.













a)  Mengerjakan semua tugas kelas sesuai dengan baik pada waktu yang ditetapkan.
b)   Tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan dalam belajar.
c)   Selalu fokus pada pelajaran
d)   Menciptakan suasana kompetisi yang sehat.
e)   Menciptakan kondisi etos kerja, pantang menyerah, dan daya tahan belajar.
f)    Mencipatakan suasana belajar yang memacu daya tahan kerja.
g)   Memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang giat bekerja dan belajar.



6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari  sesuatu yang telah dimiliki.
a)   Mengajukan pendapat yang berkenaan dengan suatu pokok bahasan
b)   Mengemukakan gagasan baru
c)   Mendiskripsikan konsep dengan kata-kata sendiri.



7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
a)   Melakukan sendiri tugas kelas yang menjadi tanggung jawabnya
b)   Tidak bergantung terhadap oranglain








8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
a)   Mengambil keputusan kelas secara bersama melalui musyawarah dan mufakat.
b)   Pemilihan kepengurusan kelas secara terbuka.
c)   Seluruh produk kebijakan melalui musyawarah dan mufakat.
d)   Mengimplementasikan model model pembelajaran yang dialogis dan interaktif.

9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
a)   Bertanya kepada guru dan teman tentang materi pelajaran
b)   Bertanya sesuatu tentang gejala alam yang baru terjadi
c)   Bertanya atau membaca sumber di luar buku teks tentang materi yang terkait dengan pelajaran
d)   Membaca atau mendiskusikan gejala alam yang baru terjadi
e)   Menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu.
f)    Eksplorasi lingkungan secara terprogram.
g)   Tersedia media komunikasi atau informasi (media cetak atau media elektronik).

10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
a)   Bekerja sama dengan teman sekelas yang berbeda suku, etnis, status sosial-ekonomi.
b)   Mendiskusikan hari-hari besar nasional.

11. Cinta Tanah Air
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
a)   Memajangkan: foto presiden dan wakil presiden, bendera negara, lambang negara, peta Indonesia, gambar kehidupan masyarakat Indonesia.
b)   Menggunakan produk buatan dalam negeri.
















12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
a)   Mengerjakan tugas dari guru dengan sebaik-baiknya.
b)   Berlatih keras untuk berprestasi dalam olahraga dan kesenian.
c)   Menghargai hasil karya sendiri dan orang lain.
d)   Memberikan penghargaan atas hasil karya peserta didik.
e)   Memajang tanda-tanda penghargaan prestasi.
f)    Menciptakan suasana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik berprestasi.

13. Bersaha-bat/Komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
a)   Mendengarkan secara aktif.
b)   Berbicara dengan teman sekelas.
c)   Berbicara dengan guru, kepala sekolah, dan personalia sekolah lainnya.
d)   Menyampaikan pesan dengan berbagai media.
14. Cinta Damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
a)   Menciptakan suasana kelas yang damai.
b)   Membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan.
c)   Pembelajaran yang tidak bias gender.
d)   Kekerabatan di kelas yang penuh kasih sayang.

15.  Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
a)   Tersedianya perpustakaan yang memadai untuk mengembangkan siswa untuk gemar membaca
b)   Daftar buku atau tulisan yang dibaca peserta didik.
c)   Frekuensi kunjungan perpustakaan.
d)   Saling tukar bacaan.
e)   Pembelajaran yang memotivasi anak menggunakan referensi











16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
a)   Memelihara lingkungan kelas.
b)   Tersedia tempat pembuangan sampah di dalam kelas.
c)   Pembiasaan hemat energi.
d)   Memasang stiker perintah mematikan lampu dan menutup kran air pada setiap ruangan apabila selesai digunakan (SMK).















17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
a)   Berempati kepada sesama teman kelas.
b)   Melakukan aksi sosial.
c)   Membangun kerukunan warga kelas.


18. Tanggung-jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
a)   Pelaksanaan tugas piket secara teratur.
b)   Peran serta aktif dalam kegiatan sekolah.
c)   Mengajukan usul pemecahan masalah.






BAB IV
PENUTUP

Seperti telah diuraikan pada awal pendahuluan bahwa fungsi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa selain mengembangkan dan memperkuat potensi pribadi juga menyaring pengaruh dari luar yang akhirnya dapat membentuk karakter peserta didik yang dapat mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian
kegiatan belajar mengajar baik melalui mata pelajaran maupun serangkaian kegiatan pengembangan diri yang dilakukan di kelas dan luar sekolah. Pembiasaan-pembiasan (habituasi) dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab, dsb. perlu dimulai dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat. Nilai-nilai tersebut tentunya perlu ditumbuhkembangkan yang pada akhirnya dapat membentuk pribadi karakter peserta didik yang selanjutnya merupakan pencerminan hidup suatu bangsa yang besar.
Pedoman yang disusun ini lebih diperuntukkan kepada sekolah. Pembentukan budaya sekolah (school culture) dapat dilakukan oleh sekolah melalui serangkaian kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembelajaran yang lebih berorientasi pada peserta didik, dan penilaian yang bersifat komprehensif. Perencanaan di tingkat sekolah pada intinya adalah melakukan penguatan dalam penyusunan kurikulum di tingkat sekolah (KTSP), seperti menetapkan visi, misi, tujuan, struktur kurikulum, kalender akademik, dan penyusunan
silabus. Keseluruhan perencanaan sekolah yang bertitik tolak dari melakukan analisis kekuatan dan kebutuhan sekolah akan dapat dihasilkan program pendidikan yang lebih terarah yang tidak semata-mata berupa penguatan ranah pengetahuan dan keterampilan melainkan juga sikap prilaku yang akhirnya dapat membentuk akhlak budi luhur.
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa bukan merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri atau merupakan nilai yang diajarkan, tetapi lebih kepada upaya penanaman nilai-nilai baik melalui mata pelajaran, program pengembangan diri maupun budaya sekolah. Peta nilai dan indikator yang disajikan dalam naskah ini merupakan contoh penyebaran nilai yang dapat diajarkan melalui berbagai mata pelajaran sesuai dengan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang terdapat dalam standar isi (SI). Begitu
pula melalui program pengembangan diri, seperti kegiatan rutin sekolah, kegiatan spontan, keteladanan, pengkondisian. Perencanaan pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa ini perlu dilakukan oleh semua pemangku kepentingan di sekolah yang secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidik diterapkan ke dalam kurikulum sekolah yang selanjutnya diharapkan menghasilkan budaya sekolah


DAFTAR PUSTAKA

Adian, Husaini. 2010. Pendidikan Karakter. REPUBLIKA, , Senin, 14 Juni 2010 pukul 10:49:00.

Berkowitz, Marvin W. dan Bier, Mellinda C. (2005). What Works in Character Education: A Research-driven Guide for Educators. Washington: Character Education Partnership

Curriculum Corporation. (2003). The Values Education Study: Final Report. Victoria: Australian Government Dept. of Education, Science and Training.

Elkind, David H. dan Sweet, Freddy. How to Do Character Education. Artikel yang diterbitkan pada bulan September/Oktober 2004.

Endang, S., Sofyan S., dan Adian H. 2011. Pendidikan Karakter Membangun Bangsa Beradab. Kumpulan makalah dan seminar nasional. Pascasarjana UPI

Harian Sindo. Pentingnya Pendidikan Karakter.Thursday, 04 November 2010 

Husamah. 2011. Pengembangan Pendidikan Karakter Terintegrasi di Sekolah Menengah Pertama sebagai Upaya Membangun Generasi Indonesia Bermartabat. Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian Dan Pengembangan Pusat Kurikulum. 2010. Pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakarta.

Kirschenbaum, Howard. (2000).”From Values Clarification to Character Education: A Personal Journey.” The Journal of Humanistic Counseling, Education and Development. Vol. 39, No. 1, September, pp. 4-20

Lickona, Thomas. (1991). Educating for Character: How Our schools can teach respect and responsibility. New York: Bantam Books

Lickona, T.; Eric Schaps & Catherine Lewis, “Eleven Principles of Effective Character Education”, The Character Education Partnership, dalam: http://www.cortland.edu/character/articles/prin_iii.htm

Lickona, Thomas, Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books, 1992.

Muhtadi, A. 2011. Pendidikan Karakter Berwawasan Sosiokultural (Sociocultural Based Character Education) di Sekolah Dasar, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Ratna Megawangi (2010). Strategi dan Implementasi Pendidikan Karakter di PAUD. Makalah disajikan dalam seminar tentang PAUD. Bogor.

Suyatno. 2010. Peran Pendidikan sebagai Modal Utama Membangun Karakter Bangsa. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Nasional “Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” oleh Kopertis Wilayah 3 DKI Jakarta, 12 Januari 2010




Tidak ada komentar:

Posting Komentar